Kamis, 30 Agustus 2012

Pendakian Gunung Teraktif Di Indonesia, Merapi 2012

      Cerita yang aku tulis kali ini adalah cerita ketika aku dan kawan-kawan saat melakukan pendakian menuju puncak gunung merapi. Gunung yang dikenal sangat aktif bahkan paling aktif dari beberapa gunung aktif di Indonesia. Sebagai penambah pengetahuan mengingat aku juga bukan ahli vulkanolog, maka pada tulisanku ini juga ditambahkan beberapa tulisan dari blog orang lain yang memang sengaja aku masukkan untuk menambah wawasan saja.

     Gunung Merapi (2.968 m.dpl) terletak di 2 provinsi, di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Gunung merapi terletak berdampingan dengan Gunung Merbabu. Gunung merapi adalah salah satu gunung api yang mempunyai daya rusak yang tinggi dan paling aktif diantara sekian banyak gunung api yang terletak di Indonesia serta merupakan salah satu gunung terganas di dunia. Nama puncaknya adalah puncak Garuda, yang merupakan bongkahan batu besar dengan bentuk mirip burung garuda. Salah satu ciri khas dari Gunung Merapi adalah pada saat terjadi letusan menghasilkan awan panas (glowing avalanches), yang oleh penduduk setempat disebut Wedus Gembel (sejenis kambing Jawa), awan panas ini mempunyai suhu sekitar 1.000 °C yang turun berbentuk bulatan keriting mirip kambing. Sekian mungkin perkenalan mengenai gunung Merapi. Selanjutnya akan saya sambung mengenai kisah pendakianku.
  
    























Pendakian Gunung Lawu Menyambut Tahun 2012

     Semua berawal dari kecintaanku akan alam, alam yang senantiasa membuatku merasa nyaman dan tentram bila menyatu dengannya. Kecintaan akan alam ini telah aku dapatkan semenjak aku kecil, yang mungkin juga bawaan dari kedua orang tuaku, di mana ibu adalah putri dari keluarga kecil yang hidup di kaki gunung dan di tepi pantai, sedangkan ayah adalah pemuda dengan jiwa petualang yang tinggi. Latar belakang inilah yang menyumbangkan beberapa persen jiwa berpetualangku. Telah banyak cerita yang aku lalui bersama kawan-kawanku sesama pecinta alam dari SD hingga MAHASISWA, yang tak mampu aku mengingat dan menulis kenangan indah tersebut. Mungkin hanya sebagian cerita ini yang mampu aku tulis melalui sebuah blog, cerita sebuah pendakian, cerita dimana aku tak lagi belia, cerita yang akan terus berlanjut hingga aku tua.

Pendakian Puncak Hargo Dumilah 3.265 m Dpl Gunung Lawu

     Gunung Lawu merupakan salah satu gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan puncaknya Hargo Dumilah pada ketinggian 3.265 m di atas permukaan laut. Gunung lawu adalah salah satu gunung yang sangat populer dikalangan pendaki. Gunung inilah yang merupakan tempat awal dimana aku mulai mencintai kegiatan pendakian. Sebenarnya aku juga pernah mendaki gunung beberapa kali, namun hanya sebatas pegunungan di kota asalku, Kediri.
Tepatnya tanggal 31 Desember 2011 yang lalu aku menapakkan kakiku untuk yang pertama kali di Gunung Lawu. 

     Perjalanan aku mulai dari kota Surabaya, begini ceritanya. 30 Desember 2011, malam pukul 11.00 WIB aku berangkat ke rumah temanku Agus, selanjutnya menuju terminal Bungur Asih. Suasana di terminal malam itu sangat panas, penuh orang-orang yang saling berebut untuk bisa masuk ke dalam bus begitu juga aku dan Temanku. Telah 2 jam lamaya kami d terminal, mondar-mandir dan akhirnya dapat bus juga. Bus pun melaju menuju kota Solo, kota dimana aku dan Agus akan dijemput nantinya sebelum menuju ke Gunung Lawu. 

     Lima jam perjalanan dari Surabaya menuju Solo, pukul 06.00 WIB akhirnya kamipun sampai. Sambil menunggu rekan-rekan Solo yang akan berkumpul di terminal, aku dan temankupun membeli sarapan untuk mengisi perut yang dari kemarin belum terisi sama sekali.
Lama kami menunggu, akhirnya rekan-rekan dari Solopun berkumpul di depan terminal. Kamipun segera berangkat menuju Gunung Lawu. Dari terminal Tirtonadi Solo, kami memilih bus jurusan Tawangmangu dan turun di pasar Tawangmangu. Dari pasar Tawangmangu kamipun melanjutkan menuju Cemoro Sewu (Kaki Gunung Lawu).

Info :
Surabaya-Solo (Rp. 30.000)
Solo-Tawangmangu (Rp. 7.000)
Tawangmangu-Cemoro Sewu (Rp. 7000) harus tawar menawar dulu.

     Sore telah menjelang, kamipun tiba di Cemoro Sewu kaki Gunung Lawu. Segera kami mendirikan sebuah tenda dan satu Doom untuk berteduh mengingat cuaca di kaki gunung tersebut yang tidak menentu. Langit masih belum gelap, iseng kami jalan-jalan menyusuri kaki gunung sekedar untuk melihat pemandangan di kaki Gunung Lawu tersebut dan kembali lagi ke tenda (Camp). 




     Langitpun mulai gelap, setelah sholat Isya’ kamipun berkemas untuk melakukan pendakian ke puncak. Hawa dingin menusuk tulang-tulang kami, karena aku merupakan pendaki pemula sangat wajar sekali jika aku tidak mengetahui apa saja yang diperlukan seorang yang hendak mendaki gunung. Dengan Jaket rangkap 3 dan celana jeans rangkap 2, dilengkapi dengan sepatu bengkel peninggalan jaman kuliah dulu, lumayan cukup menghangatkan tubuhku. Dengan persiapan logistik yang secukupnya. Berikut adalah peta yang menunjukkan jalur pendakian baik Via Cemoro Sewu maupun Via Cemoro Kandang, hanya sebagai pengetahuan saja seberapa jauh rute yang akan kita lalui.


     Tim pendakian ini sebenarnya ada 11 orang, namun yang 3 memutuskan untuk tidak ikut ke puncak sehingga tinggal 8 orang. Lama kami berjalan menyusuri jalan setapak disertai angin dingin yang bertiup kencang. Tiba-tiba dua rekan kami memutuskan untuk kembali ke camp saja karena sudah sangat kelelahan dan tidak sanggup untu melanjutkan perjalanan menuju puncak. Sehingga tim pendakian tinggal 6 orang. Berkilo-kilo jauhnya kami berjalan rasanya tidak sampai-sampai puncak, hanya bersenjatakan senter sebagai penerang jalan kami. Sesekali kami  merasa kelelahan dan beristirahat sejenak.


     Perjalan panjang kami lalu untuk mencapai puncak, dinginnya udara malam di pegunungan kami rasakan. Hingga tahun telah berganti angka 2012 tepatnya pukul 04.00 WIB, Kami ber enam telah sampai di lembah sebelum mencapai puncak yang tinggal beberapa meter itu. Pagi itu kami putuskan untuk beristirahat sejenak (Tidur) beralaskan jas hujan yang melekat pada tubuh kami karena memang rintikan air hujan tiada henti-hentinya menerpa kami.

    Matahari mulai terbit, kami terbangun dan kurasakan betapa dinginnya pagi itu, segera kami membuat api unggun di lembah dimana kami beristirahat tadi. Ku kumpulkan ranting-ranting yang masih tampak kering dan membuat api unggun untuk keperluan memasak dan sekaligus sebagai penghangat tubuh kami.





     Setelah dirasa cukup istirahatnya, kamipun segera bergegas menuju Puncak Hargo Dumilah yang merupakan puncak tertinggi Gunung Lawu. Di puncak Hargo Dumilah tersebut kami habiskan waktu untuk berfoto-foto mengabadikan momen yang indah ini. Pemandangan alam yang luar biasa indahnya terhampar luas sejauh mata memandang, bukit-bukit kecil berwarna hijau yang menjulang tinggi di atas awan sangat kontras dengan warna gumpalaan awan itu sendiri. Tak heran apa bila puncak gunung ini sering dijuluki sebagai Negeri Di Atas Awan. Perasaan bangga timbul pada diriku yang akhirnya mampu memijakkan kaki di atas Gunung Lawu.







     Setelah puas berfoto-foto, kamipun ber istirahat sambil menikmati indahnya pemandangan yang disuguhkan oleh alam. Rasa syukur yang tiada batas aku panjatkan kepada-Nya atas ciptan yang tiada ternilai harganya. Subhanallah.










     Tanggal 1 Januari 2012 pukul 10.00 WIB, setelah merasa puas menikmati pemandangan di sekitar puncak, kamipun memutuskan untuk turun. Jalur yang akan kami lewati untuk turun berbeda sama jalur yang aku tempuh untuk pendakian kemarin. Kali ini kami melalui jalur Cemoro Kandang, dimana jalur tersebut merupakan jalur alternatif kedua yang dapat dipilih oleh para pendaki selain jalur Cemoro Sewu. Jalur ini memiliki track yang relatif lebih pendek bila di banding dengan jalur Cemoro Sewu, biarpun pendek jalurnya namun medan yang akan kami lalui sangatlah curam dan menanjak. Pemandangan di jalur ini juga lebih menarik bila di banding jalur Cemoro Sewu. Kesamaan kedua jalur tersebut adalah, pada masing-masing jalur baik jalur Cemoro Sewu maupun Cemoro Kandang keduanya memiliki lima buah pos dengan jarak tempuh dari pos satu ke pos lain yang berbeda-beda jaraknya. Saat perjalanan turun, tiada henti-hentinya kami berhenti untuk sekedar berfoto-foto lagi, tiada habis-habisnya pemandangan indah menggoda kami untuk mengambil gambarnya seolah-olah kami tidak diperbolehkan pergi secepatnya dari situ.



      Pos demi pos kami lalui, jalanan yang menurun curam membuat langkah kami semakin berhati-hati. Batu-batu besar dan kecil menghiasi perjalanan kami, sesekali kami terpeleset di bebatuan yang kami pijak. Terkadang juga hujan turun secara tiba-tiba sehingga kami harus berkali-kali mamakai jas hujan untuk melindungi tubuh kami dari derasnya air hujan. Medan yang basah dan berlumpur menjadikan tantangan tersendiri bagi kami mengingat kami berjalan di tepian jurang yang dalam dan berkabut. Jurang tersebut disebut jurang panguripan dan terkadang sisebut juga jurang pangarep-arep, konon katanya apabila saat melintasi jurang tersebut dan tiba-tiba merasa ada yang memanggil  dari dalam jurang tersebut dan orang tersebut menengok ke dalamnya, hingga terpeleset maka orang tersebut akan hilang dan tidak akan ditemukan lagi. Entah itu hanya mitos belaka atau benar adanya, aku juga tidak mengetahuinya. Semua kembali kepada-Nya.


     Akhirnya kamipun tiba di basecamp Cemoro Kandang setelah menempuh jarak yang jauh, lelah dan letih rasanya. Kaki seketika menjadi kaku untuk digerakkan. Sejenak kami ber istirahat untuk melepas lelah. Kembali lagi rasa syukur aku ucapkan karena telah selamat tanpa kurang suatu apapun sesampainya di basecamp. Banyak pengalaman seru dan menantang saat pendakian Gunung  Lawu ini dan aku berharap masih dapat melakukannya lagi dalam petualangan-petualangan lainnya. Wassalamualaikum Wr. Wb.





Sampai ketemu lagi di cerita petualanganku yang lain.....!!!!!!!