Senin, 03 September 2012
Kamis, 30 Agustus 2012
Pendakian Gunung Teraktif Di Indonesia, Merapi 2012
Gunung Merapi (2.968 m.dpl) terletak di 2 provinsi, di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Gunung merapi terletak berdampingan dengan Gunung Merbabu. Gunung merapi adalah salah satu gunung api yang mempunyai daya rusak yang tinggi dan paling aktif diantara sekian banyak gunung api yang terletak di Indonesia serta merupakan salah satu gunung terganas di dunia. Nama puncaknya adalah puncak Garuda, yang merupakan bongkahan batu besar dengan bentuk mirip burung garuda. Salah satu ciri khas dari Gunung Merapi adalah pada saat terjadi letusan menghasilkan awan panas (glowing avalanches), yang oleh penduduk setempat disebut Wedus Gembel (sejenis kambing Jawa), awan panas ini mempunyai suhu sekitar 1.000 °C yang turun berbentuk bulatan keriting mirip kambing. Sekian mungkin perkenalan mengenai gunung Merapi. Selanjutnya akan saya sambung mengenai kisah pendakianku.

Pendakian Gunung Lawu Menyambut Tahun 2012
Semua berawal dari kecintaanku akan alam, alam yang
senantiasa membuatku merasa nyaman dan tentram bila menyatu dengannya.
Kecintaan akan alam ini telah aku dapatkan semenjak aku kecil, yang mungkin
juga bawaan dari kedua orang tuaku, di mana ibu adalah putri dari keluarga
kecil yang hidup di kaki gunung dan di tepi pantai, sedangkan ayah adalah
pemuda dengan jiwa petualang yang tinggi. Latar belakang inilah yang
menyumbangkan beberapa persen jiwa berpetualangku. Telah banyak cerita yang aku
lalui bersama kawan-kawanku sesama pecinta alam dari SD hingga MAHASISWA, yang
tak mampu aku mengingat dan menulis kenangan indah tersebut. Mungkin hanya
sebagian cerita ini yang mampu aku tulis melalui sebuah blog, cerita sebuah
pendakian, cerita dimana aku tak lagi belia, cerita yang akan terus berlanjut
hingga aku tua.
Pendakian
Puncak Hargo Dumilah 3.265 m Dpl Gunung Lawu
Gunung Lawu merupakan salah satu gunung yang berada
di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan puncaknya Hargo Dumilah pada
ketinggian 3.265 m di atas permukaan laut. Gunung lawu adalah salah satu gunung
yang sangat populer dikalangan pendaki. Gunung inilah yang merupakan tempat
awal dimana aku mulai mencintai kegiatan pendakian. Sebenarnya aku juga pernah
mendaki gunung beberapa kali, namun hanya sebatas pegunungan di kota asalku,
Kediri.
Tepatnya tanggal 31 Desember 2011 yang lalu aku
menapakkan kakiku untuk yang pertama kali di Gunung Lawu.
Perjalanan aku mulai dari kota Surabaya, begini
ceritanya. 30 Desember 2011, malam pukul 11.00 WIB aku berangkat ke rumah
temanku Agus, selanjutnya menuju terminal Bungur Asih. Suasana di terminal
malam itu sangat panas, penuh orang-orang yang saling berebut untuk bisa masuk
ke dalam bus begitu juga aku dan Temanku. Telah 2 jam lamaya kami d terminal,
mondar-mandir dan akhirnya dapat bus juga. Bus pun melaju menuju kota Solo,
kota dimana aku dan Agus akan dijemput nantinya sebelum menuju ke Gunung Lawu.
Lima jam perjalanan dari Surabaya menuju Solo, pukul
06.00 WIB akhirnya kamipun sampai. Sambil menunggu rekan-rekan Solo yang akan
berkumpul di terminal, aku dan temankupun membeli sarapan untuk mengisi perut
yang dari kemarin belum terisi sama sekali.
Lama kami menunggu, akhirnya rekan-rekan dari
Solopun berkumpul di depan terminal. Kamipun segera berangkat menuju Gunung
Lawu. Dari terminal Tirtonadi Solo, kami memilih bus jurusan Tawangmangu dan
turun di pasar Tawangmangu. Dari pasar Tawangmangu kamipun melanjutkan menuju
Cemoro Sewu (Kaki Gunung Lawu).
Info :
Surabaya-Solo (Rp. 30.000)
Solo-Tawangmangu (Rp. 7.000)
Tawangmangu-Cemoro Sewu (Rp. 7000) harus tawar
menawar dulu.
Sore telah menjelang, kamipun tiba di Cemoro Sewu
kaki Gunung Lawu. Segera kami mendirikan sebuah tenda dan satu Doom untuk
berteduh mengingat cuaca di kaki gunung tersebut yang tidak menentu. Langit
masih belum gelap, iseng kami jalan-jalan menyusuri kaki gunung sekedar untuk
melihat pemandangan di kaki Gunung Lawu tersebut dan kembali lagi ke tenda
(Camp).
Langitpun mulai gelap, setelah sholat Isya’ kamipun
berkemas untuk melakukan pendakian ke puncak. Hawa dingin menusuk tulang-tulang
kami, karena aku merupakan pendaki pemula sangat wajar sekali jika aku tidak
mengetahui apa saja yang diperlukan seorang yang hendak mendaki gunung. Dengan
Jaket rangkap 3 dan celana jeans rangkap 2, dilengkapi dengan sepatu bengkel
peninggalan jaman kuliah dulu, lumayan cukup menghangatkan tubuhku. Dengan
persiapan logistik yang secukupnya. Berikut adalah peta yang menunjukkan jalur pendakian baik Via Cemoro Sewu maupun Via Cemoro Kandang, hanya sebagai pengetahuan saja seberapa jauh rute yang akan kita lalui.
Tim pendakian ini sebenarnya ada 11 orang, namun
yang 3 memutuskan untuk tidak ikut ke puncak sehingga tinggal 8 orang. Lama
kami berjalan menyusuri jalan setapak disertai angin dingin yang bertiup
kencang. Tiba-tiba dua rekan kami memutuskan untuk kembali ke camp saja karena
sudah sangat kelelahan dan tidak sanggup untu melanjutkan perjalanan menuju
puncak. Sehingga tim pendakian tinggal 6 orang. Berkilo-kilo jauhnya kami
berjalan rasanya tidak sampai-sampai puncak, hanya bersenjatakan senter sebagai
penerang jalan kami. Sesekali kami
merasa kelelahan dan beristirahat sejenak.
Perjalan panjang kami lalu untuk mencapai puncak, dinginnya udara malam di pegunungan kami rasakan. Hingga tahun telah berganti angka 2012 tepatnya pukul 04.00 WIB, Kami ber enam telah sampai di lembah sebelum mencapai puncak yang tinggal beberapa meter itu. Pagi itu kami putuskan untuk beristirahat sejenak (Tidur) beralaskan jas hujan yang melekat pada tubuh kami karena memang rintikan air hujan tiada henti-hentinya menerpa kami.
Matahari mulai terbit, kami terbangun dan kurasakan betapa dinginnya pagi itu, segera kami membuat api unggun di lembah dimana kami beristirahat tadi. Ku kumpulkan ranting-ranting yang masih tampak kering dan membuat api unggun untuk keperluan memasak dan sekaligus sebagai penghangat tubuh kami.
Pos demi pos kami lalui, jalanan yang menurun curam membuat langkah kami semakin berhati-hati. Batu-batu besar dan kecil menghiasi perjalanan kami, sesekali kami terpeleset di bebatuan yang kami pijak. Terkadang juga hujan turun secara tiba-tiba sehingga kami harus berkali-kali mamakai jas hujan untuk melindungi tubuh kami dari derasnya air hujan. Medan yang basah dan berlumpur menjadikan tantangan tersendiri bagi kami mengingat kami berjalan di tepian jurang yang dalam dan berkabut. Jurang tersebut disebut jurang panguripan dan terkadang sisebut juga jurang pangarep-arep, konon katanya apabila saat melintasi jurang tersebut dan tiba-tiba merasa ada yang memanggil dari dalam jurang tersebut dan orang tersebut menengok ke dalamnya, hingga terpeleset maka orang tersebut akan hilang dan tidak akan ditemukan lagi. Entah itu hanya mitos belaka atau benar adanya, aku juga tidak mengetahuinya. Semua kembali kepada-Nya.
Matahari mulai terbit, kami terbangun dan kurasakan betapa dinginnya pagi itu, segera kami membuat api unggun di lembah dimana kami beristirahat tadi. Ku kumpulkan ranting-ranting yang masih tampak kering dan membuat api unggun untuk keperluan memasak dan sekaligus sebagai penghangat tubuh kami.
Setelah dirasa cukup istirahatnya, kamipun
segera bergegas menuju Puncak Hargo Dumilah yang merupakan puncak tertinggi
Gunung Lawu. Di puncak Hargo Dumilah tersebut kami habiskan waktu untuk
berfoto-foto mengabadikan momen yang indah ini. Pemandangan alam yang luar
biasa indahnya terhampar luas sejauh mata memandang, bukit-bukit kecil berwarna
hijau yang menjulang tinggi di atas awan sangat kontras dengan warna gumpalaan
awan itu sendiri. Tak heran apa bila puncak gunung ini sering dijuluki sebagai
Negeri Di Atas Awan. Perasaan bangga timbul pada diriku yang akhirnya mampu
memijakkan kaki di atas Gunung Lawu.
Setelah puas berfoto-foto, kamipun ber
istirahat sambil menikmati indahnya pemandangan yang disuguhkan oleh alam. Rasa
syukur yang tiada batas aku panjatkan kepada-Nya atas ciptan yang tiada
ternilai harganya. Subhanallah.
Tanggal 1 Januari 2012 pukul 10.00 WIB,
setelah merasa puas menikmati pemandangan di sekitar puncak, kamipun memutuskan
untuk turun. Jalur yang akan kami lewati untuk turun berbeda sama jalur yang
aku tempuh untuk pendakian kemarin. Kali ini kami melalui jalur Cemoro Kandang,
dimana jalur tersebut merupakan jalur alternatif kedua yang dapat dipilih oleh
para pendaki selain jalur Cemoro Sewu. Jalur ini memiliki track yang relatif
lebih pendek bila di banding dengan jalur Cemoro Sewu, biarpun pendek jalurnya
namun medan yang akan kami lalui sangatlah curam dan menanjak. Pemandangan di
jalur ini juga lebih menarik bila di banding jalur Cemoro Sewu. Kesamaan kedua
jalur tersebut adalah, pada masing-masing jalur baik jalur Cemoro Sewu maupun
Cemoro Kandang keduanya memiliki lima buah pos dengan jarak tempuh dari pos
satu ke pos lain yang berbeda-beda jaraknya. Saat perjalanan turun, tiada
henti-hentinya kami berhenti untuk sekedar berfoto-foto lagi, tiada
habis-habisnya pemandangan indah menggoda kami untuk mengambil gambarnya
seolah-olah kami tidak diperbolehkan pergi secepatnya dari situ.
Pos demi pos kami lalui, jalanan yang menurun curam membuat langkah kami semakin berhati-hati. Batu-batu besar dan kecil menghiasi perjalanan kami, sesekali kami terpeleset di bebatuan yang kami pijak. Terkadang juga hujan turun secara tiba-tiba sehingga kami harus berkali-kali mamakai jas hujan untuk melindungi tubuh kami dari derasnya air hujan. Medan yang basah dan berlumpur menjadikan tantangan tersendiri bagi kami mengingat kami berjalan di tepian jurang yang dalam dan berkabut. Jurang tersebut disebut jurang panguripan dan terkadang sisebut juga jurang pangarep-arep, konon katanya apabila saat melintasi jurang tersebut dan tiba-tiba merasa ada yang memanggil dari dalam jurang tersebut dan orang tersebut menengok ke dalamnya, hingga terpeleset maka orang tersebut akan hilang dan tidak akan ditemukan lagi. Entah itu hanya mitos belaka atau benar adanya, aku juga tidak mengetahuinya. Semua kembali kepada-Nya.
Akhirnya
kamipun tiba di basecamp Cemoro Kandang setelah menempuh jarak yang jauh, lelah
dan letih rasanya. Kaki seketika menjadi kaku untuk digerakkan. Sejenak kami
ber istirahat untuk melepas lelah. Kembali lagi rasa syukur aku ucapkan karena
telah selamat tanpa kurang suatu apapun sesampainya di basecamp. Banyak
pengalaman seru dan menantang saat pendakian Gunung Lawu ini dan aku berharap masih dapat
melakukannya lagi dalam petualangan-petualangan lainnya. Wassalamualaikum Wr.
Wb.
Sampai ketemu lagi di cerita petualanganku
yang lain.....!!!!!!!
Langganan:
Komentar (Atom)




































































